Selasa, 17 Februari 2009
EDGE OF SADNESS
Tahun 2006-2008 adalah tahun perjuangan bagiku, dimana aku harus memperjuangkan cita-citaku dan apa yang telah jadi rencana matang. Sebelum itu aku tlah berencana tuk melanjutkan studiku dan aku begitu mantap dengan rencanaku. Namun setelah kuungkapkan seluruh keinginanku dan segala rencanaku,apa yang terjadi...semua ibarat sia-sia. Apa yang selama ini jadi rencana pupus sudah harapanku. Ayahku tidak mengizinkanku tuk melanjutkan studiku, dan aku harus pulang ke rumah. Betapa berat kubayangkan hidup di rumah tanpa teman, sementara adikku dan kakakku masih bergelut dengan ilmu di pesantren. Sedangkan aku harus di rumah dengan segudang tanggung jawab. Betapa berat kurasakan hari-hariku di rumah. Aku harus beradaptasi lagi dengan lingkunganku. Seluruh ketakutan yang aku bayangkan saat aku masih di pesantren kini benar-benar kualami. Namun semua itu sudah jadi rencana Tuhan dan aku harus tetap menjalani apapun yang terjadi, suka atau tidak suka. Hari-hari kujalani dengan tetap menaruh segudang harapan agar aku tetap bisa melanjutkan studiku. Berhari hari kucoba tuk mencari kegiatan diluar rumah dan berkali kali juga aku bosan dengan kegiatan itu. Berulangkali aku mencoba bernegosiasi dengan ortu agar harapanku tuk melanjutkan studi dikabulkan. Namun berulangkali juga beliau menolak. Betapa berat untuk mendapatkan sebuah izin untuk sekolah. Bahkan hal yang betul betul aku belum siap berulangkali datang orang meminangku. Betapa menambah rumit pikiranku saat itu. Tanpa kusadari semua konflik yang terjadi di rumahku membuatku semakin tertekan. Namun aku selalu berdoa agar apa yang aku inginkan segera dikabulkan. Konflik yang aku alami juga berdampak pada pergaulanku. Hingga banyak sekali relasi yang kudapat. Sekian event aku ikuti menambah pula relasi teman temanku. Dari itu aku selalu mencari motivasi agar aku tetap semangat dan optimis bahwa aku punya potensi tuk melanjutkan studi. Bahkan semua teman-temanku selalu mengatakan demikian. Aku semakin mantap mempertahankan cita-citaku.Hingga tahun 2008 aku bertekad tuk meneruskan studiku. Dan keputusanku benar-benar bulat. Walau ortuku tak mengizinkanku tuk studi diluar daerah, namun kujalani semua ini dengan niat yang tulus tuk menghilangkan kebodohan yang ada dalam diriku.Berbagai konflik dengan keluarga aku lalui,semua itu menjadikan aku semakin berani tuk mengungkapkan sebuah kejujuran. Dan semakin menjadikan aku tidak munafik dengan segala gejolak jiwa mudaku. Semua itu aku jadikan bahan tuk selalu berproses dalam membangun diri yang sempurna. Kini aku telah kembali bersekolah. Dan aku harus memanfaatkan semaximal mungkin.Aku akan selalu berusaha tuk selalu berproses tuk menyempurnakan diriku walau itu mustahil. Yang jelas aku akan selalu berusaha tuk selalu menjadi lebih baik.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
cerdas cantik smart,
BalasHapusterus berproses berdialektika dan berjuang
sahabat jadikan dirimu bermanfaat bagi orang lain.
Persahabatan atau pertemanan adalah istilah yang menggambarkan perilaku kerja sama dan saling mendukung antara dua atau lebih entitas sosial. Artikel ini memusatkan perhatian pada pemahaman yang khas dalam hubungan antar pribadi. Dalam pengertian ini, istilah "persahabatan" menggambarkan suatu hubungan yang melibatkan pengetahuan, penghargaan dan afeksi. Sahabat akan menyambut kehadiran sesamanya dan menunjukkan kesetiaan satu sama lain, seringkali hingga pada altruisme. selera mereka biasanya serupa dan mungkin saling bertemu, dan mereka menikmati kegiatan-kegiatan yang mereka sukai. Mereka juga akan terlibat dalam perilaku yang saling menolong, seperti tukar-menukar nasihat dan saling menolong dalam kesulitan. Sahabat adalah orang yang memperlihatkan perilaku yang berbalasan dan reflektif. Namun bagi banyak orang, persahabatan seringkali tidak lebih daripada kepercayaan bahwa seseorang atau sesuatu tidak akan merugikan atau menyakiti mereka.
BalasHapusApa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan
BalasHapusdan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan
mempunyai nilai yang indah.
Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi
persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan
bertumbuh bersama karenanya…
Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi
membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkanbesi,
demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya. Persahabatan
diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur-disakiti,
diperhatikan-dikecewakan, didengar-diabaikan, dibantu-ditolak,
namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan
dengan tujuan kebencian.
Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan
untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya
ia memberanikan diri menegur apa adanya.
Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman,
tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan
dengan tujuan sahabatnya mau berubah.
Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha
pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita
membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi
mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih
dari orang lain, tetapi justru ia beriinisiatif memberikan
dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.
Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya,
karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis.
Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati,
namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya.
Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun
ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya.
inta adalah sebuah perasaan yang ingin membagi bersama atau sebuah perasaan afeksi terhadap seseorang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.
BalasHapusjadikanlahh htimu seluass..lautan yg bisa menampung segala...sesuatuuu..hehehheheh
BalasHapusUNTUK DE' NAFIS YANG SEDANG MENCARI CINTA SEJATI.......................
BalasHapusCinta sejati
Apakah cinta sejati itu?
Tahukah kamu, apakah cinta sejati itu?
Cinta sejati bukanlah ingin memiliki
Cinta sejati bukan pula nafsu untuk menguasai
Apalagi memanfaatkan
Cinta sejati ialah kerelaan memberi, tanpa ingin dibalas
Cinta sejati itu berkorban, tanpa mengharap imbalan
Cinta sejati adalah menjaga, agar yang dicintai tetap dalam kebaikan
Cinta sejati itu tekad melindungi, menjaga, mengasihi, memberi, berkorban
Meski jiwa, maupun nyawa
Demi kemuliaannya
Dan di antara cinta sejati itu ... ada cinta yang menjadi penghulu segala cinta sejati
Sebuah cinta sejati yang benar-benar sejati
Cinta sejati yang hakiki
Apakah cinta yang hakiki itu?
Tahukah kamu apakah cinta yang hakiki itu?
Cintamu kepada Rabb-mu.
TERUNTUK DE' NAFIS YANG SEDANG MENCARI CINTA SEJATI................
BalasHapusCinta sejati
Apakah cinta sejati itu?
Tahukah kamu, apakah cinta sejati itu?
Cinta sejati bukanlah ingin memiliki
Cinta sejati bukan pula nafsu untuk menguasai
Apalagi memanfaatkan
Cinta sejati ialah kerelaan memberi, tanpa ingin dibalas
Cinta sejati itu berkorban, tanpa mengharap imbalan
Cinta sejati adalah menjaga, agar yang dicintai tetap dalam kebaikan
Cinta sejati itu tekad melindungi, menjaga, mengasihi, memberi, berkorban
Meski jiwa, maupun nyawa
Demi kemuliaannya
Dan di antara cinta sejati itu ... ada cinta yang menjadi penghulu segala cinta sejati
Sebuah cinta sejati yang benar-benar sejati
Cinta sejati yang hakiki
Apakah cinta yang hakiki itu?
Tahukah kamu apakah cinta yang hakiki itu?
Cintamu kepada Rabb-mu.
DE'NAFIS NIE QU KIRIMKAN BAHAN REFLEKSI TUK MEREKA YANG PEWRCAYA DAN MAU BERGERAK MEMBELA KAUM TERTINDAS SEBAGAI BAGIAN DARI IBADAH KEPADA ALLAH SWT
BalasHapusKaum Tertindas
Dalam Hadis Qudsi Allah Swt berfirman, “ Barangsiapa yang ingin menjumpai-Ku maka carilah Aku di tengah orang-orang miskin dan tertindas.”
Alam sejarah perjuangan para pemimpin terkemuka di dunia kita menyaksikan berbagai episode kehidupan yang cukup menakjub-kan. Hampir semua kebangkitan untuk mengembalikan nilai-nilai moral kehidu-pan manusia selalu diawali dengan kebangkitan kalangan minoritas kaum miskin dan tertindas. Mereka bangkit bersamaan dengan protes mereka atas kedzaliman, ketimpangan kebijakan, eksploitasi, penjajahan yang dilakukan oleh kalangan aristokrat dan borjuis. Mereka bangkit melawan bersama pemimpinnya yang dianggap dapat mengantarkan kepada kemenangan menuju kebebasan.
Konsep pembebasan yang dikem-bangkan oleh kalangan analis sosial pada umumnya mengatakan perangkat yang paling memungkinkan untuk membangkit-kan perlawanan kaum proletar adalah mengusik sejumlah kepentingan yang menyangkut hajat hidup kaum tertindas. Para pemimpin datang dengan gagasan dan ide perlawanan untuk membangkitkan semangat perlawanan. Dengan gerakan penyadaran seperti inilah kemudian sejarah mencatat kesuksesan demi kesuk-sesan diperoleh. Gerakan penyadaran ini pulalah yang digerakkan para pemimpinan sejarah untuk membangkitkan semangat pengikutnya. Sejarah mencatat bahwa berbagai revolusi yang pernah ada di muka bumi seperti revolusi Perancis dan Rusia adalah karena penyadaran itu
Islam sebagai agama Ilahi, juga hadir untuk membebaskan manusia dari penindasan sesama manusia. Kehadirannya menghilangkan sekat-sekat strata sosial yang dapat melahirkan penindasan, dengan mengerus hak-hak hidup setiap manusia. Islam menghadirkan ajaran kesetaraan kedudukan manusia di dunia dan di mata Tuhan. Manusia hanya dapat diberikan kedudukan lebih tinggi dari yang lainnya jika diukur dengan ilmu, amal dan takwanya. Bukan berdasarkan kekayaan ataupun rasnya.
Dengan Muhammad, kemaslahat-an manusia dan alam mendapatkan jaminan. Nabi Muhammad Saw hadir membawa rahmat ketengah masyarakat yang hampir mengalami kebangkrutan budaya. Masyarakat yang tadinya tidak dikenal sejarah dan peradabannya kecuali kejahilan. Di mana-mana pembantaian, penindasan, peperangan dan pemerkosaan menghiasi berbagai berita. Di tengah kondisi seperti inilah Nabi Muhammad Saw tampil dengan konsep perubahan dan pembaharuan sehingga tatanan peradaban jahiliyah sirna dengan tampilnya cahaya kebenaran. Perubahan dari dzulumat menuju nur, dari jahiliyah ke peradaban Islam, dari kebodohan meraih kecerdasan, dari ketertinggalan mengapai kemajuan dan dari ketertindasan meraih kemerde-kaan.
Jika suatu kaum mendapatkan dirinya dalam keadaan terpuruk, kaum tersebut harus merubah dirinya menuju kebangkitan positif. Menuju perubahan positif memerlukan pengorbanan baik pikiran, tenaga bahkan air mata dan darah. Namun perubahan tidak akan pernah tercapai tanpa kehadiran seorang pemimpin. Kehadiran seorang pemimpin niscaya dan mutlak, karena darinya bimbingan, arahan dan kepemimpinan menentukan arah sebuah perubahan. Perubahan yang akan menuntun dan memberikan advokasi dan pembelaan golongan yang lemah dan tertindas. Situasi seperti ini memang dijanjikan oleh Allah sebagaimana firmannya, “Dan Kami hendak memberikan karunia kepada mereka yang tertindas di bumi, Kami jadikan mereka menjadi pemimpin-pemimpin dan Kami jadikan mereka sebagai pewaris.(QS. 28:5).
Kehadiran pemimpin bukan hanya memberi harapan tapi sekaligus sebagai suluh dan oase bangkitnya api perlawanan dan kehidupan kaum yang tertindas. Ketika mereka dimusuhi oleh bangsawan Quraisy, Rasulullah Saw datang memberikan harapan. Ketika kaum Nabi Mûsâ ditindas oleh Raja Fir’aun, Nabi Musa memperjuangkan kebebasan mereka. Walaupun mereka harus melewati belahan laut merah untuk mendapatkan kemenangan, dan meneng-gelamkan Fir’aun di laut merah. Kemena-ngan memang harus diraih dengan pengorbanan. Kemenangan bukanlah sesuatu yang diberikan tetapi memang sesuatu yang harus diperjuangkan. Apalagi kemenangan untuk mengalah-kan kebatilan dan kezaliman, keme-nangannya bahkan harus dengan pengor-banan darah dan air mata.
Janji-janji Allah dalam surat diatas hanya dapat teralisasi jika pemim-pin hadir memberikan pengayoman kepada kaum tertindas. Pemimpin yang dapat membangkitkan api perlawanan serta kemanusiaan dengan menunjukkan secara jelas jalan yang benar. Seperti contoh yang dapat kita lihat pada Rasulullah Saw dan Nabi Mûsâ as sebagai pembela kaum tertindas dan terampas kemerdekaannya oleh penguasa. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa cara hidup Rasulullah Saw adalah seseder-hana orang yang paling sederhana di kaumnya. Hati Rasulullah Saw tidak tenang sebelum ummatnya terbebas dari kelaparan dan ketertindasan. Bahkan Rasulullah dalam salah satu sabdanya berkata, “Kelak nanti aku akan dibangkitkan bersama dengan orang-orang miskin dan tertindas.” Hadis ini mengambarkan betapa dekatnya hubungan antara dirinya dengan sahabatnya.
Rasulullah Saw sangat memper-hatikan kehidupan orang miskin. Hampir semua perintah dalam ajaran Islam memiliki indikasi pengayoman terhadap orang miskin seperti haji, puasa, zakat, korban, khumus. Rasulullah Saw hadir untuk mewujudkan nilai-nilai tersebut menjadi sebuah kenyataan sejarah bukan hanya sebuah retorika. Perilakunya yang sederhana dan selalu membela kaum yang lemah di hadapan para tiran dan kaum penindas menjadikan dirinya dicintai sedemikian rupa oleh kalangan masyara-kat miskin dan tertindas. Jadi adalah sebuah kemuskilan jika peristiwa Surat Abasa (bermuka masam) itu ditujukan kepada Rasulullah Saww.
Di zaman kita, di negeri yang katanya berbudaya santun yang sangat tinggi tapi di mana-mana kita menemu-kan kemiskinan. Bahkan dalam data terakhir BPS tingkat kemiskinan di Indonesia telah mencapai 69% dari total jumlah penduduk. Tetapi ironis bahwa para pemimpin bangsa ini lebih memper-soalkan jatah kekuasaan ketimbang nasib bangsa yang semakin terpuruk. Bahkan dengan tampilnya sejumlah ulama bayaran yang tidak sedikit pun mempunyai kepekaan kemanusiaan. Alih-alih meng-urusi nasib umat, mereka bahkan menyu-lut pertikaian anarkis di antara sesama orang miskin. Kita saat ini kehilangan figur seorang pemimpin yang membela kelom-pok yang lemah dalam ekonomi dan kekuasaan. Kita rindu akan figur seperti yang dicontohkan Rasulullah Saw, figur pemersatu bangsa, yang memiliki integ-ritas kenegarawanan yang tinggi dan memimpin dengan penuh kasih sayang.
Kerinduan kita kepada pemim-pin yang mewarisi cita-cita suci Rasu-lullah semestinya memberikan implikasi yang positif. Salah satu implikasi itu adalah menumbuhkan semangat persatuan dan menjauhi perpecahan. Perpecahanlah sebenarnya menjadi sumber kehancuran bangsa-bangsa Islam di hampir semua belahan dunia. Memang Allah Swt telah mengingatkan kita untuk menjauhi perpecahan. Pesan ini di siratkan dalam Quran; “…dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecahbelah agama mereka beberapa golongan tiap-tiap golongan bangga dengan apa yang ada pada mereka.” (QS. 30:31-32) Memang inhern dalam perpecahan itu adalah kehancuran dan satu-satunya semangat di balik perpecahan adalah pintu kemusyrikan.
Dalam periode seperti inilah Rasulullah saw hadir ditengah masyarakat jahiliyah Quraisy. Dan sejarah menunjuk-kan bahwa ditengah kekalutan budaya akibat hegemoni kekuasaan para tiran penindas dari berbagai kabilah yang merasa superior atas yang lainnya, nabi justru menawarkan perdamaian dan ishlah. Persatuan yang ditandai dengan memper-saudarakan setiap orang dari berbagai klan dan golongan yang berbeda menandai kebangkitan peradaban bangsa arab. Dari sinilah awal tumbangnya hegemoni kekuasaan imperium Romawi dan Persia. Kekuatan itu diperoleh justru setelah rujuk ‘nasional’ yang dilakukan nabi mengawali langkah konsepsionalnya dalam membangun masyarakat ‘madani’ di Madinah.
Kita tidak perlu khawatir, seandai-nya keberadaan para ‘kampiun’ demokrasi di negeri ini memiliki integritas kenegara-wanan dan kemanusiaan yang tinggi. Segala tragedi di Indonesia, seperti: Ambon, Poso, Aceh, Sampit, dan lain-lain. tidak akan terulang. Atau, mungkin kita harus bersabar menunggu pemimpin yang dapat menanamkan semangat berjuang melawan penindas, yang menanamkan cinta kepada kebenaran dan keindahan Ilahiah, yang menanamkan kepada manusia kebencian akan maksiat dan dosa, yang menuntun kepada tegaknya hukum dan kepatuhan, yang menanamkan ideologi Islam dan pemeliharaannya, yang mengajar manusia untuk memegang teguh penegakan syari’ah dan melenyap-kan birahi syahwatnya yang rendah, yang menuntun manusia bertaqarrub kepada Allah, berkhidmat kepada sesama manusia serta berbuat baik kepada sesama makhluk Allah. Penantian kita kepada pemimpin seperti ini tidak boleh membuat kita pasif tetapi proaktif dan mungkin salah satu caranya adalah mengkonstruksi ulang pemahaman keberagamaan kita. Atau kita membiarkan bangsa ini ter-cabik-cabik kedalam perpecahan yang menyeramkan.
SEBUAH BAHAN RELEKSI
BalasHapusNur Sayyid Santoso Kristeva
sedang berdialektika dan berproses meyeselesaikan studi di S2 Fisipol UGM
Dari Ibadah Ritual ke Ibadah Sosial
Dari penghujung abad ke-20 hingga saat ini muncul geliat umat Islam di berbagai kawasan. Di berbagai negara, Islam dalam bentuk kekuatan politik, budaya dan ekonomi muncul ke permukaan. Fenomena ini menimbulkan harapan, Islam sebagai salah satu agama terbesar jumlah pemeluknya di dunia mulai menunjukkan kebangkitan. Harapan ini mekar di kalangan umat Islam karena sudah berabad-abad lamanya kaum Muslim terperosok dalam kungkungan sejarah keterpurukan. Makanya, geliat kaum Muslim di berbagai negara dipandang sebagai pertanda positif, sejarah bangsa-bangsa Muslim ke depan akan bergulir ke arah kemajuan.
Fenomena geliat umat Islam ini juga mendapat perhatian tersendiri bagi kalangan non-Muslim. Terutama kalangan akademisi dan para peneliti, makin bergairah memerhatikan realitas umat Islam terkini. Berbagai buku dan hasil penelitian bermunculan. Salah seorang yang cukup apresiatif akan isu kebangkitan Islam adalah John L. Esposito—profesor dari Syracuse University Amerika Serikat. Dalam bukunya Islamic Threat: Mith or Reality (Kebangkitan Islam: Mitos atau Realitas), Esposito menaruh harapan akan kebangkitan umat Islam. Geliat Muslim di berbagai kawasan dijadikan Esposito sebagai indikator akan harapannya itu.
Kaum Muslim Mengenaskan
Namun harapan itu masih sulit diwujudkan. Kondisi umat Islam di berbagai kawasan masih bernasib mengenaskan. Banyak bangsa-bangsa Muslim terpuruk dalam lumpur kemiskinan, ketertinggalan, dan kebodohan. Dalam peringkat indeks pembangunan kemanusiaan (HDI), indeks pendidikan dan penegakan hukum, negara-negara Muslim kebanyakan masih berada pada peringkat bawah. Soal kejahatan korupsi juga marak di negara-negara Muslim. Banyak negara-negara Muslim pemerintahannya berlimang korupsi karena penegakan hukum, aturan pelayanan publik dan sistem perundang-undangan yang lemah.
Demikian pula Indonesia. Negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini masih bergerak tertatih-tatih. Kemiskinan akut terus mendera. Berbagai akibat dari kemiskinan seperti busung lapar, kekurangan gizi, pengangguran yang makin banyak dan berbagai macam kejahatan terus menggelayuti bangsa ini. Diperparah lagi dengan tingginya kejahatan korupsi, makin menempatkan negeri ini ke tepi jurang kehancuran.
Mutu pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi Indonesia amat jauh tertinggal dari negeri tetangga. Laporan Asia Week akhir Desember 2005 lalu menunjukkan tak satu pun perguruan tinggi asal Indonesia yang masuk peringkat 100 di Asia Pasifik dan tak satu pun masuk peringkat 500 perguruan tinggi dunia. Mutu pendidikan dasar kita pun termasuk paling bawah di Asia Tenggara, kita hanya unggul sedikit dari Kamboja.
Dalam kondisi sejarah seperti itulah umat Islam mulai terbangun di negeri ini. Berbagai organisasi Islam tumbuh subur. ormas-ormas Islam mapan terus menggeliat untuk berperan di tengah dinamika sejarah umat. Di sisi lain, dalam beberapa tahun terakhir, wacana keislaman juga marak di mana-mana. Kelompok pengajian, majlis taklim, komunitas-komunitas spiritual, tasawuf dan berbagai gerakan dengan beragam spektrum pemahaman tumbuh di mana-mana.
Apakah geliat dan tumbuh kembangnya organisasi-organisasi Islam itu bisakah jadi indikator bahwa Islam telah memasuki periode kebangkitan di negeri ini? Nampaknya pertanyaan ini penting untuk membuat ukuran dan mengidentifikasi permasalahan yang ada. Sebab, organisasi-organisasi Islam yang bermunculan, kebanyakan masih terjebak pada isu-isu simbolik, ideologis, cenderung reaktif dan emosional. Isu paling sering diangkat adalah penerapan syariat Islam dalam peraturan formal, isu perlawanan terhadap Kristenisasi dan kemarahan terhadap Zionisme. Sedangkan persoalan-persoalan mendasar yang dihadapi umat seperti kemiskinan, kebodohan, maraknya korupsi cenderung terabaikan.
Nilai Sosial Terabaikan
Wacana yang dikembangkan masih banyak berputar-putar pada persoalan fikih peribadatan. Halal-haram, surga-neraka dan bagaimana menabung pahala lewat ritual peribadatan tetaplah menjadi persoalan dominan. Sementara penegakan nilai-nilai Islam dalam tataran sosial, kemanusiaan, kebudayaan dan kemajuan ilmu pengetahuan cenderung luput dari perhatian. Yang paling memprihatinkan, umat Islam masih terperangkap dalam emosi menyalahkan pihak lain. Kristenisasi, Zionisme dan imperialisme dan kapitalisme Barat adalah sasaran empuk untuk meluapkan emosi umat.
Dengan kenyataan seperti ini, masih sulit diharapkan kebangkitan Islam akan menjadi kenyataan. Untuk itu, umat Islam mestinya mulai melakukan introspeksi diri. Kebangkitan peradaban bangsa-bangsa Islam tak mungkin bisa diraih dengan mudah. Sikap emosional tak akan berkontribusi banyak dalam mendorong kebangkitan Islam. Cakrawala umat Islam mesti dibuka kembali agar mampu melihat dunia dengan lebih berwawasan. Untuk itu ada beberapa bidang strategis yang mesti digarap umat Islam dengan baik agar kebangkitan Islam bisa menjadi kenyataan.
Di antaranya, bidang pendidikan mesti diperhatikan kembali dengan serius. Pendidikan dibangun dengan target adanya kemandirian berpikir dan bertindak generasi Islam di masa depan. Untuk itu materi pendidikan mesti diperbarui terus menerus agar berhasil mendayagunakan akal anak didik dengan baik dan mampu meraih keahlian memadai dalam berbagai bidang. Pendidikan akhlak yang dikembangkan pun hendaknya bukan sekadar penanaman akhlak verbal tapi akhlak yang mampu membangun budi pekerti dan penguatan moral insani yang anti terhadap segala bentuk ketidakjujuran dan penyelwengan. Penguatan mutu amat mendesak, tanpa pendidikan bermutu, mustahil generasi masa depan negeri akan mampu bersaing dengan negeri tetangga.
Selanjutnya, terbangunnya sistem ekonomi yang lebih berpihak pada rakyat kecil. Tidak hanya dalam bentuk penyaluran kredit tapi sungguh-sungguh mengusahakan pemberdayaan agar suatu saat umat Islam mampu mandiri di negerinya sendiri tanpa harus lagi mengemis-ngemis pada orang lain. Di sisi lain, pemerintah dituntut memberdayakan warga miskin dengan segala model atau skim bantuan untuk penguatan kapasitas mereka agar mereka tak terus menerus tergantung pada pihak lain. Yang tak kalah penting yang harus dibangun adalah etos kerja yang tinggi dan budaya unggul dalam segala bidang. Umat harus diyakinkan bahwasanya kerja keras dan mencapai prestasi tinggi amat mulia di sisi Allah.
Dalam menyikapi ketertinggalan umat Islam hendaknya tidak lagi melihat orang lain, Yahudi dan Nasrani sebagai musuh yang selalu harus diperangi. Kerjasama antarpemeluk agama tidak dilarang oleh Islam, yang dilarang adalah pencampuradukan akidah sehingga akidah umat Islam menjadi lemah. Peradaban Barat pun mestinya tak selalu dilihat sebagai musuh karena bagaimanapun kebanyakan sisi positif dari peradaban Barat sebenarnya sejalan dengan nilai-nilai Islam seperti kedisiplinan, kerja keras, kecintaan akan ilmu penegetahuan.
Untuk itu, momentum politik Indonesia hari ini mestinya bisa dimanfaatkan dengan baik oleh umat Islam demi meraih kebangkitan. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Tapi tantangan adalah sunnatullah jika memang ingin meraih kemajuan.
Dari NUR SAYYID SANTOSO KRISTEVA-JOGJAKARTA
BalasHapusTERUNTUK DE' NAFIS DI UJUNG HARAPAN SANA
disela-sela kesibukan yang kadang mengasingkan diri kita, ku ajak de nafis merenungkan sejenak tentang apa siapa, mengapa dan siapa diri kita............ dan mengapa kita hidup...................
Jika hingga detik ini masih ada kejadian seperti masih suka ribut sama isteri, dengan tetangga tidak akur, tidak peduli dengan lingkungan sekitar, merasa diri lebih baik dari orang lain, tidak peka terhadap penderitaan saudaranya, mudah terpancing emosi, bahkan tidak mau memaafkan orang lain, dan berbagai persoalan sosial lainnya dalam kehidupan berumah tangga serta bermasyarakat, hati-hati dengan ibadah kita!
Padahal shalat wajib tak bolong, masih ditambah beragam shalat sunnah seperti dhuha, tahajjud, termasuk shalat sunnah rawatib. Tidak cukup hanya menjalankan puasa di bulan Ramadhan, di bulan lain pun kita tetap berpuasa, Senin Kamis, atau lainnya. Zakat rutin tiap tahun dikeluarkan, ditambah infaq dan sedekah. Kita pun sudah pernah ke tanah suci, bahkan berkali-kali.
Pertanyaannya, benarkah seluruh ibadah hanya berorientasi vertikal? Hanya untuk Allah semata? Bukankah ada dimensi horizontal (baca : sosial) dari setiap ibadah yang kita kerjakan setiap hari?
Shalat misalnya, betul kita tengah menghadap Allah. Tetapi ketika shalat, baik sendiri maupun berjama'ah, banyak sekali dimensi sosial yang berlaku sepanjang shalat berlangsung. Mulai dari hikmah ketaatan dan loyalitas kepada pemimpin (imam), tidak satupun yang berhak mendahului gerakan imam shalat. Tidak ada gerakan khusus yang dibedakan sesuai jabatan di kantor atau struktur pemerintahan, semuanya seragam dan serempak.
Kesejajaran dan kesetaraan dalam barisan (shaf), hak yang sama dalam menempati shaf, lantaran tidak serta merta ketua RT, RW, kepala desa, atau pemimpin negara harus mendapat tempat di shaf paling depan. Status sosial jelas tidak berlaku pada saat shalat.
Betul memang ketika shalat kita tengah berhadapan dengan Allah, tetapi disaat yang sama pun kita berdampingan dengan orang lain yang berdiri sejajar, saling bersentuhan bahu, merapatkan ujung-ujung jari dengan sebelah kanan dan kiri. Maksudnya jelas, orang-orang yang menegakkan shalat pun semestinya tetap dekat, rapat, dan hangat dengan tetangganya, termasuk yang tak dikenal sekalipun.
Ketika mengucap salam, kalimat "Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu" sambil menengok ke kanan dan kiri. Buatlah orang lain merasa aman dan nyaman berdekatan dengan kita, tengoklah tetangga kanan dan kiri serta lingkungan sekitar untuk tetap menyambung silaturahim. Tengok pula, apakah ada tetangga, saudara, kerabat, dan sahabat yang sakit atau memerlukan bantuan.
Berpuasa pun demikian. Kita merasakan lapar mulai waktu shubuh sampai adzan maghrib. Agar tahu penderitaan saudara-saudara yang berpuasa sepanjang tahun, tak hanya di bulan Ramadhan. Tak cukup hanya merasakan, tentu saja ada wujud kepedulian terhadap sesama, berbagi nikmat Ramadhan saat berbuka maupun sahur. Egois rasanya kalau berpuasa tapi tak peduli keadaan dan lingkungan.
Saling hantar makanan pun menjadi tradisi di bulan Ramadhan, ini tak hanya sekadar wujud syukur nikmat, melainkan bentuk silaturahim antar tetangga. Jika perlu, perluas area hantar makanan ke rumah-rumah yang lebih memerlukan. Di rumah-rumah yang belum tentu selalu tersedia panganan berbuka setiap hari.
Zakat, sebaiknya tidak hanya di akhir Ramadhan. Karena sesungguhnya dari setiap harta yang kita dapatkan dan miliki ada hak kaum dhuafa. Karena kita mendapatkan rezeki dari Allah setiap hari, setidaknya setiap bulan, maka sewajarnya zakat pun tidak hanya di bulan Ramadhan saja. Bagus pula bila ditambah dengan infaq dan sedekah, boleh jadi ini yang membuat rezeki terus mengalir.
Ada baiknya, zakat, infaq, dan sedekah kita berikan kepada yang terdekat, ia boleh tetangga yang memerlukan, orangtua, keluarga dekat, atau kerabat. Seringkali kita mengeluarkan infaq untuk yang jauh, sedangkan tetangga sendiri terabaikan.
Sedangkan berhaji, dimensi sosial sangat kentara dari pakaian yang dipakai oleh seluruh jama'ah. Bentuknya sama, warnanya pun sama, tak peduli yang mengenakannya seorang selebritis, pejabat, ulama, pemimpin Negara, atau tukang bakso. Siapa pun yang pernah berhaji, semestinya tidak sombong, tidak merasa lebih baik dari siapa pun, sebab nilai yang berlaku di hadapan Allah kelak pun cuma ketakwaan, bukan yang lain.
Andai sepulang haji kemudian tersinggung hanya gara-gara seseorang tak menyebut titel haji, sayang sekali puluhan juta uang yang sudah dikeluarkannya. Seandainya titel haji justru membuat seseorang merasa lebih baik, lebih hebat, lebih bertaqwa dari yang lainnya, seluruh penghuni langit mungkin akan bersedih. Karena seharusnya, ia semakin rendah hati, lebih memahami bahwa nilai diri seseorang bukan ditentukan oleh status sosial, melainkan peran dan manfaatnya untuk orang lain.
Lalu, ibadah mana yang pantas saya persembahkan di hadapan Mu kelak, ya Rabb?
Terus berjuang, pantang mundur. Hadapi semua konflik agar menjadi lebih dewasa.
BalasHapus