Selasa, 17 Februari 2009
EDGE OF SADNESS
Tahun 2006-2008 adalah tahun perjuangan bagiku, dimana aku harus memperjuangkan cita-citaku dan apa yang telah jadi rencana matang. Sebelum itu aku tlah berencana tuk melanjutkan studiku dan aku begitu mantap dengan rencanaku. Namun setelah kuungkapkan seluruh keinginanku dan segala rencanaku,apa yang terjadi...semua ibarat sia-sia. Apa yang selama ini jadi rencana pupus sudah harapanku. Ayahku tidak mengizinkanku tuk melanjutkan studiku, dan aku harus pulang ke rumah. Betapa berat kubayangkan hidup di rumah tanpa teman, sementara adikku dan kakakku masih bergelut dengan ilmu di pesantren. Sedangkan aku harus di rumah dengan segudang tanggung jawab. Betapa berat kurasakan hari-hariku di rumah. Aku harus beradaptasi lagi dengan lingkunganku. Seluruh ketakutan yang aku bayangkan saat aku masih di pesantren kini benar-benar kualami. Namun semua itu sudah jadi rencana Tuhan dan aku harus tetap menjalani apapun yang terjadi, suka atau tidak suka. Hari-hari kujalani dengan tetap menaruh segudang harapan agar aku tetap bisa melanjutkan studiku. Berhari hari kucoba tuk mencari kegiatan diluar rumah dan berkali kali juga aku bosan dengan kegiatan itu. Berulangkali aku mencoba bernegosiasi dengan ortu agar harapanku tuk melanjutkan studi dikabulkan. Namun berulangkali juga beliau menolak. Betapa berat untuk mendapatkan sebuah izin untuk sekolah. Bahkan hal yang betul betul aku belum siap berulangkali datang orang meminangku. Betapa menambah rumit pikiranku saat itu. Tanpa kusadari semua konflik yang terjadi di rumahku membuatku semakin tertekan. Namun aku selalu berdoa agar apa yang aku inginkan segera dikabulkan. Konflik yang aku alami juga berdampak pada pergaulanku. Hingga banyak sekali relasi yang kudapat. Sekian event aku ikuti menambah pula relasi teman temanku. Dari itu aku selalu mencari motivasi agar aku tetap semangat dan optimis bahwa aku punya potensi tuk melanjutkan studi. Bahkan semua teman-temanku selalu mengatakan demikian. Aku semakin mantap mempertahankan cita-citaku.Hingga tahun 2008 aku bertekad tuk meneruskan studiku. Dan keputusanku benar-benar bulat. Walau ortuku tak mengizinkanku tuk studi diluar daerah, namun kujalani semua ini dengan niat yang tulus tuk menghilangkan kebodohan yang ada dalam diriku.Berbagai konflik dengan keluarga aku lalui,semua itu menjadikan aku semakin berani tuk mengungkapkan sebuah kejujuran. Dan semakin menjadikan aku tidak munafik dengan segala gejolak jiwa mudaku. Semua itu aku jadikan bahan tuk selalu berproses dalam membangun diri yang sempurna. Kini aku telah kembali bersekolah. Dan aku harus memanfaatkan semaximal mungkin.Aku akan selalu berusaha tuk selalu berproses tuk menyempurnakan diriku walau itu mustahil. Yang jelas aku akan selalu berusaha tuk selalu menjadi lebih baik.
Langganan:
Postingan (Atom)